Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

Tokoh dan Ketokohan Omon




Omon, adalah tokoh lain yang paling sering muncul dalam setiap cerpen yang ku tulis. Berbeda dengan si Acil yang masih anak-anak. Omon adalah seorang dewasa, yang sering membuat kontroversial di manapun ia berada. Omon adalah sosok yang mungkin sangat kental dengan kesan aneh bagi penduduk yang melihatnya.

Kadang-kadang, pembaca dapat melihatnya sebagai tokoh protagonis, dan tidak jarang pembaca akan memasukkannya dalam tokoh antagonis. Namun, sebenarnya aku tak pernah mau memasukkan tokoh ini dalam antagonis. Hanya saja, karena istilah protagonis yang selalu dekat dengan sosok yang tampan/cantik, rendah hati, dan selalu menang. Sedang sosok si Omon adalah seorang yang sebaliknya, tampangnya pas-pasan, kadang-kadang aku memberikan karakter sombong padanya, dan juga mungkin terlihat pengecut, yang sebenarnya dia punya rencana lain di balik sikapnya.

Omon senantiasa hadir dalam bahasa yang terkesan implisit bagi kawan maupun lawannya dan akan dirasa mengapung bagi orang-orang yang sengaja bertanya kepadanya. Tentu, ada sisi yang mungkin akan terasa menyebalkan bagi sebagian pembaca tentangnya. Namun, itu senantiasa didampingi nilai-nilai kebebasan yang dibawakannya. Ya, memang untuk apa lagi aku menulis, selain untuk berbagi pengalaman yang aku alami. Bukan, pengalaman fisik, namun pengalaman jiwa, melalui pena ku rangkaikan sebuah cerita untukmu, yang berisi inti dari pemahaman hidup dariku. Aku bercerita tentang nilai dari ruang dan waktu. Tentang pola dari suatu gerak. Tentang aku dan kamu yang lain, yang diselubungi tulang dan daging.

Dan kini kuceritakan sebagian kisah dari si Omon.

Penduduk gempar! Mereka tiba-tiba berkumpul mengelilingi salah satu pohon tertinggi di desa sambil terus meneriakki orang yang sedang berada di atasnya. Bukan karena orang itu maling, bukan karena orang itu telah menghajar salah satu teman mereka, tapi karena orang itu adalah orang yang memang suka menggemparkan teman-teman sedesanya. Ya, tidak bukan dan bukan lain, si Omon kembali beraksi.

Sedang penduduk berusaha sekuat suara mencegah perbuatan nekat si Omon, sang aktor malah terlihat santai melakukan perbuatannya. Dengan wajah polos tak berdosa, si Omon seperti tak mendengarkan suara mereka. Atau mungkin dia pura-pura tak mendengarkan suara mereka. Sebagian penduduk mulai berfikir apakah si Omon benar-benar ingin mengakhiri hidupnya. Sebagian lagi menyangka si Omon tengah frustasi dan putus asa karena mereka mendengar bahwa cintanya ditolak kembang desa.

Beberapa waktu ke belakang, Adul melihat si Omon menaiki tangga yang ia sandarkan pada sebuah pohon tinggi sambil membawa gergaji. Adul menyangka kalau si Omon mungkin akan menggergaji salah satu rantingnya buat kayu bakar. Namun, sesampainya di atas, Omon malah menendang tangga tinggi itu ke bawah. Kemudian ia memanjat ke atas, dan terlihat ingin menggapai puncak pohon. Tapi, sepertinya dia cukup kesulitan memanjat sambil membawa gergajinya. Manusia dewasa ini pun mencukupkan aksinya. Dia kemudian berusaha meraih ranting itu dan dia pun dapat duduk di atasnya.

Omon, mempersiapkan gergajinya. Kemudian, ia mundur sedikit demi sedikit untuk mendapatkan spasi bagi maksudnya. Dan ia pun mulai menggergaji ranting yang ia duduki sambil menghadap ke batang pohon. Sontak si Adul, kaget, dan kemudian meneriakki lelaki berusia kepala tiga tersebut,

“Hey, Mon, kau mau bunuh diri?? Kau salah posisi!!” teriaknya.

Si Omon, terlihat santai saja, tanpa khawatir sedikit pun. Ia malah mempercepat gesekkan gergajinya. Dan sekarang sudah seperempat diameter ranting yang ia potong.

“Hey, hey!! Hentikan Mon!! Kau akan jatuh, kau akan mati!! Tolong jangan lakukan itu di depanku, Mon!!” teriak Adul, makin keras suaranya sampai sebagian penduduk desa dapat mendengarkan teriakkannya. Warga keheranan dan dengan dibarengi rasa ingin tahu, mereka berdusun-dusun berlarian melihat apa yang terjadi. Dan teranglah sekarang apa yang terjadi bagi mereka.

Si Omon, masih terus melakukan aksi nekatnya. Hadirin berteriak sekencang-kencangnya berharap si Omon menghentikan aksinya. Sehingga makin banyak warga lain yang berdatangan ke tempat itu. Omon, sejenak memperhatikan keadaan dibawahnya, sudah banyak orang-orang disana. Sebagian diantara mereka terlihat sibuk mempersiapkan hal-hal yang mungkin terjadi. Pak RT menyuruh, sebagian warganya untuk membawa kasur dan menumpuk di salah satu sudut pohon itu. Namun, sepertinya itu tak kan kesampaian. Sebab ranting pohon sudah semakin lemah menampung badan manusia, dan si Omon pun akhirnya terjatuh.

Buukkk!!!

Omon terjatuh ke tanah. Penduduk langsung mengerumuninya. Si Omon pingsan beberapa waktu, namun kemudian ia sadar kembali. Dan segera ia menggosok-gosok matanya. Kemudian berkata.

“Beginilah akibat dari orang yang tahu cara naik dan cara menggergaji tapi tidak bijak menggunakan pengetahuannya”

Demikianlah kawan sebagian cerita dari si Omon. Seorang dewasa, perenung, santai tapi nekat. Dan itulah sebagian tentangku. What do you want to know about me? This is all about me…

Selasa, 24 April 2012

The Truth of Acil

Jika aku bercerita, aku cukup sering menggunakan karakter ini. ACIL, ya, itulah tokoh utamanya. Siapakah sebenarnya si Acil ini? Tentu dia bukan seseorang manusia yang ku kenal, dan yang pasti bukan panggilan untuk salah seorang teman SMPku Arsyil. Bukan dia tentunya, hhh…

Acil itu kurang lebih merupakan akronim dari Anak Kecil. Kenapa harus anak kecil? Sebab bagiku anak kecil merupakan salah seorang guru terbaik, yang mengajarkanku hidup bahagia dengan mempertahankan karakter-karakter kejujuran.

Manakala mentari tua lelah berpijak,
Manakala bulan dan bumi enggan tersenyum,
Berkerut-kerut tiada bersedih,
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan,

Lilin-lilin kecil….

Lagu yang dinyanyikan oleh almarhum Chrisye ini, mirip dengan penafsiranku pada anak-anak. Anak-anak menjadi pelipur saat guru-guru kita yang notabene lebih dewasa dari kita tak mampu memberi pencerahan atas situasi hidup yang kita alami. Ketika siang hari dan malam hari terasa suram, mereka tak kunjung sedih, dan mampu bersikap ceria, kendati bermain sendiri. Ya, anak kecil sering sekali terlihat tersenyum, tertawa kecil, penuh rasa ingin tahu, tentu dalam balutan kepolosannya. Dalam ketidaktahuannya mereka tak gundah oleh pikiran yang membatasi persepsi. Dapat kau simpulkan bahwa aku mendapatkan banyak inspirasi dan imajinasi melalui salah satu keajaiban Tuhan ini.

Itulah Acil, karakter ini mewakili anak kecil. Aku tak kan membiarkan karakter ini, membawa peran sebagai skeptis, atau melankolis kelas kakap. Dia, senantiasa bersikap polos dan tak pernah kehilangan semangat untuk mencari tahu. Pertanyaan-pertanyaannya sangat sederhana, namun mungkin mengakar. Jawaban-jawaban si Acil pun mudah dicerna bagi pembaca.

Acil, lahir dari kekosongan tendensi. Dibesarkan dalam rasa ingin tahu dan kejujuran. Dan ditemani, daya fokus yang cukup tinggi untuk mengingat dan meneliti setiap rangkaian kata yang ia dengarkan dari orang-orang yang ia temui.

Berikut, ku kisahkan, tentang salah satu perjalanan si Acil. Suatu ketika, ia dibawa sang bunda ke tempatnya kuliah. Sang Ibu, sedang menyelesaikan program S1 untuk jurusan pendidikan. Sebenarnya, Ibu Acil itu sudah menjadi Guru PNS. Namun, karena peraturan terbaru yang mengharuskan ia  bergelar S1, ibunda Acil kemudian melanjutkan studinya dari Ahli Madya Pendidikan untuk meraih gelar Strata satu dalam pendidikan.

Singkat cerita, tibalah Acil bersama sang bunda di kelas pengajaran. Kali ini yang mengajar adalah seorang Profesor yang tentu sudah sangat mahir dalam berdialektika dan sudah terlalu sering dalam berdebat. Dalam pengajarannya ia berujar,

“Jika Tuhan Maha Kuasa, tentulah Dia Kuasa membuat batu yang sangat besar hingga Tuhan pun tak mampu mengangkat batu itu”

Hadirin kebingungan mendengar perkataan itu dari sang dosen. Sebagian besar hadirin adalah orang-orang beragama. Tentulah mereka beragama, wong tinggal di negara yang berlandaskan Ketuhanan. Kuat rasa dalam hati mereka untuk mendebat sang guru, namun mereka belum mendapatkan ide untuk mengapresiasi ungkapan sang dosen dengan alasan dan cara yang tepat. Sebagian, dari mereka mulai berfikir, “Itu benar, jadi sangat tak logis jika Tuhan disebut Maha Kuasa, toh ia sendiri tak terlihat berbuat apa-apa ketika seorang pedagang dirampok, atau ketika seorang gadis direnggut kehormatannya oleh lelaki biadab”

Tiba-tiba Acil yang berada dalam pangkuan ibunya, menangis. Rupanya, ia pipis dan merasa gerah dengan air pipis itu. Ibunya, menggerak-gerakkan badan Acil biar dia terdiam. Namun, tangisannya semakin lama semakin kencang sehingga memikat perhatian rekan-rekan sang Bunda, termasuk sang Profesor.

Profesor, sang ahli dialektika, kemudian mendekati Acil bersama bunda yang terlihat cemas mengayun-ayunkan si Acil dalam pangkuannya. Sambil, tersenyum, sang dosen berkata,

“Ibu, dibawa ke belakang saja dulu anaknya, mungkin dia pipis”
“Iya, Prof, betul, baju saya pun rasanya seperti basah, saya mohon ijin dulu meninggalkan kelas”

Ibunda Acil segera berdiri dari kursinya untuk meninggalkan kelas namun tiba-tiba, si Acil meronta-ronta, sambil teriak-teriak,
“Mama, mama, mama…!!”
“Ada apa sayang?” jawab bunda dengan lembut
“Pa Dosen juga bisa pipis kayak aku, kan? Apa beliau bisa pipis di depan kita?”

Dialog itu terdengar oleh seluruh peserta yang hadir. Sebagian dari mereka terlihat, tersenyum lebar. Sebagian lagi, berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Sedang sebagian lagi mulai memikirkan kesamaan konsep dari pernyataan sang dosen dengan ucapan polos si Acil.

“Tentu, Pa Dosen bisa”, sang Profesor dengan perasaan maklum menjawab pertanyaan polos Acil
“Dapatkah Bapa membuktikannya sekarang?” tanya seorang mahasiswa tiba-tiba
“Untuk apa saya melakukannya?” Profesor bertanya balik
“Untuk membuktikan bahwa Bapa dapat pipis!” jawab mahasiswa itu sederhana
“Tentu saja, saya dapat pipis. Dan untuk membuktikannya tidak harus dengan pipis di depan kalian”
“Jadi, meski tak dapat pipis di depan kami, masih logis untuk dikatakan Bapa dapat pipis?” tanya mahasiswa itu meyakinkan
“Ya, karena itulah yang terjadi sebenarnya”
“Dengan demikian, kendati pun Tuhan tak kuasa membuat batu raksasa, maka masih logis untuk dikatakan Tuhan Maha Kuasa?” tanya mahasiswa itu mulai mengarahkan ke maksudnya

Profesor termenung sejenak, ia kemudian membalas pertanyaan kritis dari sang mahasiswa,
“Ini cukup membingungkan, namun apalah arti Kuasa Tuhan jika untuk membuat batu raksasa saja Dia tak kuasa?”
“Apalah arti Bapa berkuasa untuk pipis, jika untuk pipis di depan kelas saja, Bapa tidak bisa?”
“Sudah saya katakan, dari tadi. Saya tak perlu pipis di depan kelas, hanya karena untuk membuktikan bahwa saya dapat pipis, sebab itu sudah terbukti. Sejak kecil saya dapat pipis, di rumah, tiap hari saya pipis”
“Dan Tuhanpun tak perlu membuat batu besar hanya untuk membuktikan kepada kita bahwa Dia Maha Kuasa. Sebab Kuasa Tuhan sudah terbukti. Alam raya ini adalah buktinya. Tak mungkin alam raya ada dengan kebetulan, sebab sesuatu yang kebetulan tidak mungkin tertata dengan rapi. Tuhan Maha Kuasa menjadikan malam tak dapat mendahului siang, dan siang tak dapat mendahului malam. Tuhan Maha Kuasa menjadikan mata sebagai alat untuk melihat, telinga tak dapat digunakan untuk melihat. Kita tak kuasa membaca buku dengan telinga. Tuhan Maha Kuasa menjadikan telinga sebagai alat untuk mendengar, kita tak kuasa mendengarkan musik dengan hidung. Tuhan Maha Kuasa menjadikan bumi mengitari matahari dalam kurun 365 seperempat hari dalam satu putaran. Tak pernah bumi keluar dari aturan Tuhan ini. Apakah Bapa pernah mencatat bumi mengitari matahari dalam waktu 1 juta hari dalam satu putarannya? Tidak! Tuhan Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu dengan fungsinya masing-masing, dengan dayanya masing-masing. Tuhan Maha Kuasa menjadikan gerak alam raya ini tertata rapi. Apakah keajaiban-keajaiban yang kita temukan setiap hari itu tidak cukup sebagai bukti bahwa Tuhan Maha Kuasa?”

Hadirin bersorak sorai, mendengarkan argumentasi rekan mereka. Sedang sang profesor terdiam tak dapat berkata apa-apa lagi. Ya, dimulai dari si Acil yang pipis.

***
Tentu, aku tak bermaksud untuk menyampaikan bahwa Tuhan tak berkuasa untuk membuat batu raksasa. Namun, jika batu raksasa yang Tuhan buat membuat Tuhan tak berkuasa mengangkatnya, tentulah Tuhan jadi tidak Maha Kuasa lagi. Jadi, secara logis, pernyataan profesor ini mengandung kontradiksi.

“Jika Tuhan Maha Kuasa, tentulah Dia Kuasa membuat batu yang sangat besar hingga Tuhan pun tak mampu mengangkat batu itu”

maka, Profesor sama dengan mengatakan,

“Jika Tuhan Maha Kuasa, maka dia bukan Maha Kuasa (karena tidak kuasa mengangkat batu besar)”

Pernyataan ini menyalahi 3 prinsip penalaran sekaligus, yakni,

Satu, prinsip identitas, yang bunyinya kira-kira begini,
“sesuatu yang disebut dengan x, maka identik dengan x itu sendiri”

Contoh, jika kita sepakat sesuatu tertentu disebut apel, maka sesuatu itu sampai kapanpun dalam pembahasan yang sama harus disebut apel, tidak boleh disebut bukan apel.

Dua, prinsip nonkontradiksi,
“sesuatu yang merupakan anggota x jelaslah tidak mungkin sekaligus anggota non x”

Contohnya, sama dengan contoh di atas. Karena setiap contoh logika, dapat diuji dengan semua prinsip logika. Inilah salah satu keistimewaan logika. Contoh lain, misalnya, jika si A adalah berfisik lelaki, maka dalam waktu dan tempat yang sama si A tidak mungkin berfisik wanita.

Tiga, prinsip ekslusi tertii,
“sesuatu hanya sebagai anggota x atau anggota non x saja, mustahil ada di antara keduanya”

Artinya, tidak ada jalan ketiga, tidak ada setengah x, dan tidak ada setengah non x. Lalu, bagaimana dengan banci atau gadis tomboy?

Banci itu secara fisik adalah fisik laki-laki bukan fisik wanita. Jadi, dalam pembahasan fisik, banci digolongkan dalam laki-laki, bukan fisik wanita. Sedang dalam pembahasan jiwa, mungkin dia akan digolongkan dalam jiwa wanita. Begitupun dengan gadis tomboy, kebalikan dari banci.

Dan pernyataan Professor di atas menyalahi 3 prinsip penalaran ini. Profesor mengatakan,

“Jika Tuhan Maha Kuasa, tentulah Dia Kuasa membuat batu yang sangat besar hingga Tuhan pun tak mampu mengangkat batu itu”

maka, Profesor sama dengan mengatakan,

“Jika Tuhan Maha Kuasa, maka dia bukan Maha Kuasa (karena tidak kuasa mengangkat batu besar)”

Sedang menurut,

Prinsip identitas, Jika Tuhan Maha Kuasa, maka Dia tetap Maha Kuasa
Prinsip nonkontradiksi, Jika Tuhan Maha Kuasa, mustahil Tuhan menjadi tidak Maha Kuasa
Prinsip ekslusi tertii, Jika Tuhan Maha Kuasa, maka Tuhan hanya Maha Kuasa saja, mustahil jadi tidak Maha Kuasa dan mustahil pula jadi setengah Maha Kuasa

Dengan demikian, pernyataan Profesor tersebut menyalahi prinsip penalaran logika, sehingga dapat dikatakan sebagai pernyataan tak logis.



Simpulan dari salah satu cerita bertokoh utama Acil ini ialah, Tuhan Maha Kuasa, dengan segala bukti yang kita temui, alami dan rasakan sepanjang hari. Kekuasaan Tuhan tak dapat diukur dengan pengetahuan manusia. Sebab pengetahuan manusia terbatas, sedang Tuhan tidak terbatas, dan memiliki sifat berbeda dengan makhlukNya.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (QS Yaa Siin: 82)

Sedang manusia, jika berkata, “Hey, jadi kucinglah kamu!” maka belum tentu, bahkan tidak mungkin manusia menjadi kucing hanya karena ucapan manusia lainnya.

Tiada yang menyerupaiNya sesuatu juga dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS Asy-Syuroo: 11)

Hmm, jadi inget aqo’idul iman, waktu jasadku ini masih berseragam TK, aku sering melantunkan sifat-sifat Alloh dalam lagu yang dibawakan oleh Bimbo. Apakah kawan-kawan masih inget?

Wujud, Qidam, Baqo, Mukholafatulilhawadisi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyat, Qudrot, Irodat… Ilmu, Hayat, Sama’, Bashor, Kalam, Qodiron, Muridan, ‘Aliman, Hayan, Sami’an, Bashiron, Mutakaliman…

Iman, Tauhid, Ma’rifat, Islam…
Iman, Tauhid, Ma’rifat, Islam…

Sedih, rasanya ketika fisik sudah meninggi, namun ilmu tak ikut meninggi
Pilu, rasanya saat fisik mulai dewasa, namun sikap tak ikut dewasa
Menyesal rasanya, saat usia mulai bertambah, namun kesadaran malah melemah

Astaghfirulloohaladliim waatuubu ilaihi…

This is all about me…

Senin, 23 April 2012

Dicium Jin




Nah, sekarang waktunya, bercerita tentang sesuatu yang supranatural, hihihihi…  Miraishi mungkin yang paling tertarik, jika aku menceritakan  bagian ini…

Ibuku menceritakan kepadaku…

Suatu ketika, di waktu jasadku masih berbentuk boneka ajaib alias bayi. Di daerah Munjul, Tangerang tempatnya, dan di waktu malam waktunya. Ibuku, sendirian di kontrakkan kami, sedang ayahku belum pulang dari berdagang. Seperti biasa selepas ba’da solat, ibu berwirid di atas sajadah, sedang aku terbaring tidur di atas ranjang sederhana. Tak ada yang berbeda untuk beberapa waktu, hingga suhu udara terasa berbeda. Ibu, merasa ada sesuatu yang aneh, maka didorong rasa khawatir dan penasaran, menolehlah ibunda ke arah tempatku terlelap.

Dan…
Terlihat seorang gadis cantik, melayang…. Perlahan ke arahku, tanpa menapaki tanah. Dia berbaju oranye, dan semakin lama, semakin mendekatiku… Ibu hampir hilang kesadaran, tubuhnya gemetar, dalam hatinya berusaha sekuat daya untuk menyadarkan diri dengan berzikir… gadis itu terus mendekatiku dan hampir menyentuhkan bibirnya ke pipi sang bayi…
Ibunda, terus berzikir, meski bibir dan badan beliau terasa sangat kaku, seolah-olah ditimpa sesuatu yang memberatkan. Beliau melafazkan ayat qursy dalam hati, berkali-kali… sambil bercucuran air mata…

Gadis itu terus mendekati sang bayi, dan…
Entah tersentuh atau tidak, namun gadis itu menoleh ke arah ibunda, yang sedang berusaha sekuat upaya untuk menguasai diri… kemudian, gadis itu membalikkan tubuhnya dan melayang, menembus pintu…

Tidak lama kemudian, ayahku pulang, dan sambil bercucuran air mata, ibuku menceritakan kejadian itu pada ayah. Ayahku mengiyakan, dan tanpa memberitahukan kejadian lampau di tempat itu, Ayah berkata, “Berzikirlah terus-menerus, dan tetapkanlah kesadaranmu setiap waktu”.

Konon, katanya menurut cerita penduduk setempat. Berwaktu-waktu ke belakang, di tempat yang sekarang kami tempati, pernah terjadi pembantaian, dan salah seorang korbannya, ialah seorang gadis remaja, yang terkenal cantik. Mungkinkah??

Yang pasti bukan, sebab ruh manusia yang meninggal akan dimintai pertanggung jawabannya dalam menggerakkan jasad yang ia tumpangi selama di dunia. Barangkali yang paling mendekati kebenaran, ia adalah jin. Jin itu ada, bahkan setiap manusia selalu didampingi jin. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad dari Siti ‘Aisyah ra, bahwa Rosululloh saww. pada suatu malam keluar dari tempat pembaringan ‘Aisyah. ‘Aisyah lalu melanjutkan kisahnya seraya menaruh kecurigaan. Sebentar kemudian beliau datang dan ternyata beliaupun mengetahui apa yang aku (‘Aisyah) perbuat.
Rosululloh saww       :“Sedang apa ‘Aisyah? Apakah engkau cemburu?”
‘Aisyah              : “Sudah sepantasnyalah orang seperti saya ini cemburu kepada seorang yang dalam segala-galanya seperti engkau
Rosululloh saww.      : “Apakah setanmu sedang menguasai kamu?”
‘Aisyah                    : “Yaa Rosululloh, apakah ada setan yang selalu menyertaiku?
Rosululloh saww.      : “Ya benar, bahkan setiap manusia pasti disertai setan.
‘Aisyah                    : “Apakah termasuk engkau yaa Rosululloh?”
Rosululloh saww.      : “Ya, tapi Alloh selalu melindungiku sehingga setanku masuk Islam”.

Dan atsar dari Shabat Ibnu Mas’ud ra yang termaktub dalam kitab Ghoroib wa Ajaibul Jin karya Imam Asy-Syibli,
“Tak ada seorang pun dari kamu kecuali ada jin yang diserahi untuk menyertainya. Ditanyakan kepada Rosul saww: Apakah engkau juga wahai Rosul?, Beliau saww bersabda: Ya, tapi Alloh menolongku, sehingga ia masuk Islam dan hanya menyuruhku untuk berbuat baik”

Bisa jadi, yang terjadi padaku waktu itu ialah, suatu hal yang dapat dikategorikan dalam “gangguan jin jahat terhadap anak kecil yang operasinya malam hari” sebagaimana telah diingatkan oleh sabda Rosul saww dalam Shahihain,
“Jika engkau berada di rumah dan malam mulai masuk, maka kekanglah anak-anakmu (dalam rumah) karena setan pada saat itu mulai beroperasi. Jika telah berlalu beberapa saat dari malam itu, bolehlah kau lepas anak-anakmu itu. Kuncilah pintu dengan menyebut nama Alloh Swt (karena setan tidak mampu membukanya sebagaimana riwayat yang lain). Dan tutuplah semua tempat makanan dan minumanmu dengan menyebut nama Alloh Swt. Meskipun hanya meletakkan sesuatu diatas tempat makan dan minum tersebut, serta matikanlah lampu-lampumu”

Alangkah baiknya jika kita mempraktekkan Sunnah Rosul ini, untuk mencegah anak-anak kita dari gangguan jin jahat (setan) di malam hari. Terdapat juga sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Harbu Al-Karmani dari Al-Hasan bin Mahdi bin Malik dari Ubaidillah bin Musa dari Abu Ubaidah, ia berkata bahwa Rosululloh saww bersabda yang artinya kurang lebih,
“Buatlah tempat mandi yang diberi pagar dan berada didalam rumah agar tidak dipergunakan setan untuk mengganggu anak-anakmu”

Imam Harbu berkata, “Aku pernah mendengar Imam Ahmad berkata: Tidak apalah seseorang membuat tempat mandi di luar rumah, tetapi kalau hal itu digunakan setan untuk mengganggu anak-anak, aku tidak senang”.

Namun, perlu diingat bahwa jin itu takut pada manusia, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Dunya dari Hashin dari Imam Mujahid,
“Pada suatu malam aku (Imam Mujahid) sedang melakukan solat. Tiba-tiba ada sesosok anak kecil berdiri di depanku, dan aku bermaksud mengikatnya. Tetapi dengan secepat kilat anak itu meloncat lewat tembok dan terjatuh. Aku yakin kalau ia jatuh, sebab kudengar ada suara seorang yang terjatuh di belakang tembok itu, sedangkan gerangan seorangpun tak ada di sana. Setelah itu ia tidak kembali menggangguku lagi.”

Demikian kasus riwayat yang pernah dialami oleh Imam Mujahid. Beliau menambahkan penjelasannya. “Bahwa sesungguhnya para jin itu sama takut kepada manusia, sebagaimana manusia takut kepada jin”.
Imam Harun bin Abdullah Al-Bazar juga pernah meriwayatkan suatu kisah yang dialami oleh seorang yang sudah tua yang dikenal dengan nama Abu Syura’ah, ia berkata,
“Pada suatu malam Syaikh Yahya bin Al Jazzar melihat aku sedang ketakutan, sehingga aku tidak berani memasuki suatu gang. Maka beliau berkata, “Sesungguhnya sesuatu yang kamu takuti itu lebih takut kepadamu, ia telah lari jauh-jauh karena ketakutan”

Ada suatu riwayat lagi yang diwartakan oleh Ishak bin Ibrohim dari Muhammad bin Jabir dari Hamad dari Mujahid bahwa ia berkata,
“Setan itu lebih takut kepada manusia dari pada takutmu terhadap setan itu. Maka apabila kamu diganggu oleh setan, maka janganlah kamu lari daripadanya. Sebab bila engkau lari ketakutan, maka setan itu akan menjadikanmu sebagai kendaraannya”

Simpulannya, terpujilah orang yang mengikuti anjuran sunnah untuk menjaga anak-anak dari gangguan jin jahat (setan). Namun, dalam upaya menjaga anak-anak itu, hendaklah dibarengi dengan keikhlasan, bukan karena takut oleh jin, sebab sebagaimana diriwayatkan di atas bahwa jin sesungguhnya lebih takut kepada manusia, dibanding manusia kepada jin.

Eh, malah berdalil ini teh, hhh…
Demikianlah, salah satu cerita kecilku… what do u want to know about me? This is all about me…