Minggu, 23 September 2012

Batasan Akal



Dua orang anak yang masih SD bertengkar. Masing-masing saling menegangkan leher, tak ada yang mau mengalah. Akhirnya, mereka melapor pada gurunya.

"Pak Asep! Akal itu selalu benar, kan?", tanya anak yang satu. Rupanya mereka bertengkar mengenai sumber pengetahuan.

"Nggak, kan, Pak! Akal itu tak selalu benar, jadi akal itu tak layak dijadikan sandaran untuk mengukur kebenaran!", seru anak yang kedua. Pak Asep, seorang guru honorer lulusan salah satu SMK ini tersenyum mendengarkan pertanyaan polos yang cukup kritis dari mereka.

"Dua-duanya benar", ujar tenaga sukarelawan ini, yang juga merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.

"Haaa! Kok bisa gitu, Pak?!", ujar keduanya bersamaan.

"Akal itu selalu benar, sepanjang yang disebut benar berada dalam himpunan makna akal. Dan akal tak selalu benar, selama apa yang dimaksud benar melebihi batas dari apa yang dimaksud akal", ujar Pak Asep filsafatis. Kedua muridnya itu mengerutkan dahinya pertanda belum mengerti. Memang, bahasa sukwan itu tidak tepat untuk manusia yang masih SD, berbeda dengan kebanyakan pembaca, tentulah sudah ada yang memahaminya.

"Oh, iya, Bapak malah menggunakan bahasa kuliah, ya? Hehe… maklum, pertanyaan kalian kayak teman Bapak di FISIP, hehe…", sambung Pak Asep. Kedua anak tadi mengangguk dengan polosnya.

"Okay, gini, Bapak mau tanya sama yang mengatakan kalau akal itu tak layak dijadikan sandaran untuk mengukur kebenaran. Menurut akal Bapak, kamu tak kan mampu menahan untuk tidak berkedip selama sepuluh menit. Ayo, kita uji sekarang, apakah akal Bapak layak atau tidak untuk mengukur kebenaran?", kata pengajar muda ini.

Anak kedua, yang merasa mengatakan akal tak layak untuk mengukur kebenaran terlihat merenung. Beberapa kali, dia mencoba untuk melakukan tantangan pembimbingnya yang juga merupakan pembina organisasi Karya Ilmiah Remaja ini. Namun, hanya beberapa detik saja dia sudah berkedip. Dia akhirnya menyerah.

"Horeee! Akal itu selalu benar, kan?! Ye…yeyeye…ye!", ujar anak kesatu merasa menang.

"Tunggu dulu!", ujar Pak Asep yang juga merupakan seorang penulis generalis ini.

"Bapak juga mau bertanya pada yang mengatakan kalau akal itu selalu benar. Coba menurut akalmu, siapa jodoh Bapak?", tanya anak muda ini.

"Mmm… Teh Asmirandah Zantman, kan?", tanya anak kesatu balik bertanya.

"Bukan, Kak Andah kan sudah punya pacar yang lain", jawab Pak Asep keGeeran.

"Berarti, Teh Alisa Soebandono, kan?", kembali anak kesatu itu meminta konfirmasi.

"Bukan, mana kenal Alisa sama Bapak? Dan tidak mungkin juga Bapak ketemu sama dia", jawab salah satu pendiri KIYAKO ini.

"Kalau gitu, Kak Gita Gutawa, iya kan?", anak kesatu tersebut kembali bertanya.

"Maunya sih gitu dan sebenarnya kami sudah saling bersikukuh. Bapak sudah bersikukuh kalau Bapak suka sama Gita, tapi Gita juga bersikukuh nggak suka sama Bapak, hehehe…", ucap mahasiswa rumpun ilmu politik ini.

"Nyerah, deh!", jawab anak kesatu itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Nah, akal kamu tak bisa mengetahui kebenaran soal jodoh Bapak. Karena akal kamu, akal Bapak, dan akal semua manusia itu dibatasi pengalaman, tidak dapat mengetahui kebenaran di masa depan. Manusia di zaman Nabi Ibrohim as. mungkin akan menyalahkan kita, kalau kita katakan pada mereka bahwa 'orang Palestina bisa melihat negara Cina dari Palestina', karena di zaman itu tak ada teve. Tapi, manusia di zaman sekarang, tahu kalau pernyataan itu benar, 'orang Palestina bisa melihat negara Cina dari Palestina' melalui televisi. Singkatnya, yang disebut salah menurut akal masa lampau bisa jadi benar menurut akal sekarang, dan yang benar menurut akal sekarang pun bisa jadi salah menurut akal di masa depan", papar Pak Asep panjang lebar. Kedua anak itu mengangguk, mereka memahami kalau mereka bisa benar dan bisa salah tergantung sudut pandang yang dipakai untuk mengukurnya.

"Terus, kesimpulannya apa dong Pak?", tanya dua anak itu serempak.

"Kesimpulannya, akal kita dibatasi pengalaman, namun juga masih layak untuk dijadikan sandaran mengukur kebenaran. Hanya saja, kebenaran yang berasal dari akal selayaknya dipahami sebagai kebenaran yang dibatasi pengalaman, bukan sebagai kebenaran universal yang absolut dan menjadi hukum untuk segala hal, kira-kira begitu… hehe…", ujar aikidoka penggemar Steven Seagal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar