Jumat, 21 September 2012

Membentangkan Nyali

Sinisme publik mengguyur hati
Mengiris bait-bait niat suci
Namun, Atar tak kan pergi
Dari janji yang telah terpatri
Mengukir keadilan yang hampir mati
Dihujam panah di bakar api
Keserakahan dan benci

Hedonisme datang menghempaskan
Nilai-nilai persaudaraan dan kerukunan
Membiaskan asa menggerogoti kesadaran
Tetapi, Atar tak gentar tetap menyulam
Makna kemanusiaan
Yang telah lama terbenam
Oleh konspirasi para binatang

Di antara lelucon yang merendahkan ketulusan hati
Di bawah terik gengsi yang menciutkan nyali
Atar bernyanyi dengan percaya diri
“Keberanianku lebih kuat daripada ketakutanmu
Dan kata-kata indahku lebih merdu
Daripada nada sumbangmu!”

Amanat Hati

Oh, diri!
Perhatikanlah hari!
Lambang gerak hidup yang berisi sejuta wangi
Aroma percikan hina dan suci

Duhai, mata!
Lihatlah dengan seksama!
Pilihan hidup yang berwarna-warna
Manakah yang kau suka?
Ilusi atau fakta?

Dan telinga!
Yang menerima alunan nada
Dari riak-riak pergaulan manusia
Pilihlah yang berirama
Jujur bukan dusta!

Dan mulut!
Senangkah engkau berkata kalut?
Berbalut kata kotor bagai belut
Tidakkah engkau takut?
Pada Tuhan yang akan menuntut?!

Pejuang Tangguh

Di pulau hedo diceritakan
Sang pelaut menatap bibir pantai dari kedekatan
Gulungan ombak saling berhamburan menyapa pandangan
Siraman deras hujan diiringi deru halilintar tak ketinggalan
Menghadirkan nuansa kelam menakutkan
Di laut tantangan

Namun, sang pelaut tak patah arang
Menuju pulau kedamaian di ujung seberang
Layar perahunya dikibarkan sebagai genderang
Mengarungi samudera bergelombang garang
Dalam terpaan badai, dia berjuang
Terkadang teringat perkataan orang,
“Engkau manusia bodoh, mengorbankan rasa senang
Melangkahkan kaki dalam perang
Hanya untuk kebenaran yang sudah hilang!”

Berulang kali tak terbilang
Pikiran ragu datang meronta ingin pulang
Namun, keyakinan tegar berpantang
Di antara sambaran petir terang benderang
Walau perahunya robek seakan mengerang
Hatinya tetap teguh berkumandang
Melantunkan nada-nada sayang

Dan badai pun berangsur sepi
Bersama wajah ombak yang melandai
Mengalunkan lembut sang pelaut ke tempat yang diingini
….
Sang pelaut gembira tak terkata
Merasakan cita-cita menjadi nyata
Nafasnya bebas sambil berkata
“Kalianlah yang bodoh, yang menutup mata
Pada kukuhnya fakta
Lagi enggan menuju pulau realita
Yang penuh dengan cinta!”