Selasa, 02 Oktober 2012

Apakah yang Dimaksud dengan Cinta Sejati?




Kali ini aku akan mengulas mengenai cara pandangku terhadap "cinta sejati". Wow, cinta sejati!

Ya, beberapa orang yang mengenaliku mungkin berpendapat orang sepertiku tidak terlalu antusias membicarakan soal cinta. Hal ini mungkin dikarenakan jasadku kelihatan tidak terlalu akrab dengan lawan jenis. Jarang bercanda, jarang menggombal, atau merayu yang biasanya dilakukan oleh kaum Adam pada kaum Hawa. Walaupun sebetulnya, aku juga pandai menggombal dan bercanda dengan wanita tapi hanya lewat media dan kau bisa melihatnya dalam beberapa komen atau statusku di jejaring sosial. Dan tentunya, itu hanya dalam tema "percandaan" saja tanpa ada maksud untuk membuat kemungkinan hubungan yang lebih intens.

Contohnya, aku pernah membuat puisi sederhana dalam statusku untuk menggombal, dan gombalan ini tidak ditujukan pada seorang pun,

"Dulu, bumi itu datar
Sekarang bumi itu bulat
Dulu, pendapat Edison tidak benar
Sekarang lampu pijar tlah terlihat

Sekarang kau tinggal di bumi
Nanti, bisa jadi tinggal di bulan
Sekarang kau tengah membenci
Nanti, bisa jadi kita jadian

De omnibus dubitandum
Ragukanlah segala sesuatu, Nona!
Termasuk keraguanpun!
Kecuali cintaku padamu, Nona!"

Ya, mungkin tidak terlalu menyentuh dan tidak membuat para gadis melayang, karena aku juga memperhatikan struktur dan konsistensi antara asumsi dan kesimpulan dalam menggombal, jadi bisa dikatakan aku berupaya membuat gombalan yang "logis" walaupun kelihatan paradoks dengan arti dari gombal itu sendiri. Mungkin kau juga sudah tahu semua gombalan (selain gombalanku, hehe) itu tak logis, toh arti dari gombalan juga kan, "ucapan yang tidak benar alias omong kosong", kira-kira begitu menurut KBBI. Jadi, wanita yang suka digombali sama dengan wanita yang suka dibohongi, hehehe… peace!

Kita kembali ke pokok bahasan judul, "cinta sejati". Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa FISIP lain atau teman-temanku yang sama-sama menyukai filsafat, aku sangat yakin akan adanya "cinta sejati". Keyakinan itu tidak timbul dari sekedar "pelampiasan" untuk mendapatkan hubungan yang romantis sebagai pemuas ego atau terpengaruh drama Romeo n Juliet, namun lahir sebagai konsekuensi dari keyakinanku sendiri.

Ketika berbicara cinta sejati, orang-orang akan menceritakan mengenai lawan jenis yang sempurna yang memahami segala sesuatu tentang orang itu. Namun, di zaman globalisasi yang mengarah pada materialisasi kebahagiaan seperti sekarang, terlalu sulit untuk mendambakan lawan jenis seperti itu. Kehidupan manusia sekarang lebih diarahkan pada cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis mereka dan mendapat pondasi kuat untuk finansial mereka. Cinta tak lagi mendapat kehormatan sebagai suatu yang sakral namun telah dialihdefinisikan sebagai sekadar pemuas kebutuhan biologis (baca: kebutuhan seks) dan sebagai bahasa untuk menjustifikasi keinginan untuk "ditemani" saja.

Beberapa anak baik menjadikan objek cinta sejati kepada ibu mereka. Bagi anak-anak istimewa ini, perilaku ibu adalah contoh nyata yang menjelaskan perilaku cinta sejati. Tanpa pamrih, tanpa lelah, tanpa tuntuttan dan tanpa pujian. Seorang ibu dengan setia menjaga dan merawat anak-anak mereka sejak janin sampai sang ibu tak sanggup lagi merawatnya. Ibu bagaikan penghapus bagi coretan pensil anaknya. Seketika seorang anak melakukan kesalahan, dia akan membetulkannya walaupun harus menghilangkan sebagian darinya. Seorang ibu selalu menginginkan kebaikan dan berharapan baik terhadap anaknya. Dia mengorbankan apapun untuk membahagiakan anaknya. Seperti penghapus bagi coretan pensil, selalu menghapus yang salah dan buruk demi kebenaran dan kebaikan bagi anaknya. Dia tak keberatan walau sedikit demi sedikit tenaganya menghilang, hartanya terkuras, tubuhnya melayu, dan umurnya berjatuhan. Sampai menjelang wafat pun seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya.

Sementara kalangan yang menyukai aktivitas kerohanian akan mendefinisikan cinta sejati sebagai bahasa lain dari Tuhan. Cinta sejati hanya untuk Tuhan karena Tuhan sendirilah Yang Maha Tahu dan Maha Cinta, jadi Tuhanlah yang paling tahu tentang cinta. Karenanya, semua perbuatan Tuhan adalah perilaku cinta, dengan kata lain makna cinta dapat ditemukan dalam setiap perbuatan Tuhan. Pada kitab-kitabNya, pada pergerakan makhlukNya, pada setiap keharmonisan ciptaanNya dan segala hal mulai dari yang kita hirup sampai yang kita bayangkan, terdapat bayangan-bayangan akan makna cinta sejati. Cinta hanya dari dan kepada Tuhan, karena Tuhanlah Sang Pecinta sejati.

Aku sendiri memiliki definisi yang berbeda. Dan cinta sejati dalam pandanganku dikhususkan pada "jodoh" mirip dengan pandangan klasik. Namun, bukan berarti aku menolak bahwa Tuhanlah yang Maha Tahu tentang cinta atau perilaku ibulah yang menunjukkan perilaku cinta. Aku lebih mengambil sisi populer dari istilah cinta itu sendiri. Yaitu sebuah definisi yang didalamnya terdapat aktivitas yang dilakukan oleh dua jenis yang berbeda, sah untuk melakukan hubungan spesial, dan ditandai dengan kesatuan "jiwa" antara satu sama lain. Aku memang berusaha "mengakurkan" makna cinta ini dengan turunan kata yang sudah memiliki definisi populer di kalangan umum. Dan aku pikir dalam bahasa Indonesia setepatnya cinta didefinisikan seperti itu. Hal ini menyangkut adanya kata "bercinta" yang tidak mungkin dapat dilakukan antara ibu dan anak atau Tuhan dengan makhluk. Sebenarnya, kata "bercinta" dalam KBBI berarti menaruh cinta, namun dalam keseharian kata bercinta lebih semakna dengan suatu hubungan yang dilakukan khusus oleh sepasang suami istri.

Jadi, kesimpulannya aku menggunakan term "cinta" dengan makna sepopuler mungkin yang tidak menimbulkan inkonsistensi dengan kata bentukkannya. Yakni cinta sebagai suatu "keadaan bersatunya jiwa antara dua insan yang berbeda" dan juga sebagai "pengesah untuk melakukan hubungan spesial (intim) antara dua insan yang berbeda". Dengan definisi cinta seperti ini, maka aku tidak memasukkan kasih sayang ibunda sebagai bentuk cinta. Begitupun semua gerak makhluk dan anugerah yang tercipta karena kehendak Tuhan bukanlah suatu bentuk cinta. Cinta hanya terjadi antara pria dan wanita yang halal untuk bercinta. Kira-kira seperti itulah definisi cinta versiku. Mungkin kamu memiliki definisi yang berbeda dan itu tak perlu menimbulkan perdebatan atau perselisihan. Yang pasti tiap orang memiliki dasar dan tujuan yang berbeda dalam memberi arti.

Lalu apa cinta sejati menurut penulis blog ini?

Cinta sejati adalah cinta yang murni. Murni berarti suci dari segala kotoran. Kotoran yang dimaksud adalah kotoran hati. Yakni segala sifat-sifat tercela, seperti marah, dengki, bohong, hasud, pamer, sombong, fitnah, dendam, dst. Jadi, dalam pandanganku seseorang mustahil merasakan cinta sejati tanpa mencapai kondisi bersih dari segala kotoran hati.

Murni juga berarti tidak bercampur dengan unsur lain. Cinta sejati tak bercampur dengan yang bukan cinta. Cinta sejati tidak bercampur dengan syahwat, tak pula bercampur dengan kepentingan untuk mengendalikan atau memanfaatkan. Jadi, mustahil seseorang merasakan cinta sejati sebelum dia tahu batas syahwat dan batas dari egonya. Cinta sejati di luar syahwat dan ego, karena cinta sejati, murni dari selain cinta.

Cinta sejati juga berarti cinta asli. Cinta yang lahir secara otomatis tanpa ditambah-tambahi maupun mengurang-ngurangi objek cinta dengan prasangka. Sebuah cinta yang lahir dari kualitas rasa asli, bukan dari khayalan, bukan dari lamunan, bukan karena tuntuttan orang lain, bukan pula karena pengaruh orang lain dan bukan karena perbuatan kekasih yang dicinta itu sendiri. Seorang ulama bisa saja mencintai seorang pelacur, begitupun sebaliknya, seorang muda bisa saja mencintai seorang yang berumur dst.. Tak ada batasan untuk mencintai, namun ada standar untuk menentukan apakah itu benar-benar cinta atau bukan. Standar itu adalah keadaan hati yang bersih, keadaan jiwa yang sadar (ditandai dengan kemampuan kontrol penuh terhadap seluruh sistem tubuh fisik kita) dan rasa bersatu dengan pribadi yang kita cintai itu.

Simpulannya, cinta sejati adalah cinta yang murni dan asli. Murni dalam arti suci dari segala kotoran hati dan segala sesuatu selain cinta. Asli dalam arti tidak dibuat-buat, bukan karena imajinasi, bukan karena pengharapan, bukan karena pelampiasan, bukan karena perkiraan-perkiraan yang dibuat pikiran mengenai seseorang yang dicintai itu.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara menemukan cinta sejati?

Dalam keyakinan saya, satu-satunya objek dari cinta sejati adalah "jodoh" kita masing-masing. Cinta sejati adalah "alat peghubung" untuk menemukan dan mengapresiasi keberadaan jodoh kita. Jadi, pertanyaan sebenarnya bukan "bagaimana cara menemukan cinta sejati" namun "bagaimana menemukan jodoh kita?"

Dan jawabanku untuk itu adalah, sebelum kita dapat menemukan jodoh kita, maka kita harus memiliki cinta sejati seperti definisi di atas. Kenapa? Karena cinta sejati adalah penghubung antara kita dan jodoh kita, sekaligus sandaran dalam mengapresiasi keberadaan jodoh kita.

Kenapa penulis bilang cinta sejati adalah alat penghubung antara kita dengan jodoh kita?

Jodoh termasuk takdir yang pasti. Dengan kata lain, nama jodoh kita sudah tertulis di zaman azali, sebelum tubuh kita dilahirkan ke muka bumi ini. Kalau kita ingin tahu siapa jodoh kita, maka kita harus ke zaman azali untuk mengintip nama jodoh kita, namun untuk ukuran kita yang masih "berdaging dan bertulang", itu mustahil dilakukan. Jadi satu-satunya cara adalah dengan "mengembalikan kondisi" kita ke suatu keadaan yang dekat dengan zaman azali. Keadaan sebelum waktu ini, yakni keadaan kita yang masih suci dari segala noda dan dosa, dari segala kotoran hati. Keadaan "kembali pada kesucian" itulah yang dinamakan dengan "perjuangan menuju cinta sejati". Karena cinta sejati sendiri berarti keadaan yang suci dari segala kotoran hati dan segala selain cinta. Selanjutnya, setelah sampai pada pengetahuan cinta sejati maka secara spontan cinta sejati ini akan mengarahkan kita untuk "menemukan dan mengapresiasi"  keberadaan jodoh kita.

Lalu, bagaimana denganku sendiri? Meskipun aku seorang pria (dan 100% masih perjaka tulen, hehe), aku sendiri sangat merindukan jodohku. Dan untuk itu aku harus dalam keadaan yang siap untuk memahami dan merealisasikan cinta sejati. Lalu kemudian menjadikan tubuhku sebagai saluran-saluran cinta sejati itu untuk menghubungkanku dengan bidadariku nanti. Aku yakin, sang putri itu pun merasakan hal yang sama, dan dia tengah menungguku di suatu tempat dan waktu terindah untuk bersua. Aku hanya perlu mempersiapkan segala bentuk ekspresi cinta sejatiku yang hanya untuknya saja.

Bentuk-bentuk ekspresi dari cinta sejatiku itu, ialah pemahaman hidup yang melahirkan prinsip-prinsipku untuk mengantisipasi segala situasi kondisi hidup, pondasi finansial yang kokoh sebagai benteng untuk mempertahankan pergaulan cinta kami dari serangan zaman, ilmu tentang keluarga sebagai landasan dalam berakhlak dengannya, keterampilan khusus laki-laki untuk melindungi yang dicinta, dan tentunya kesetiaan. Kesetiaan itu sendiri tidak dimulai sejak menikah, namun dapat dimulai sedini mungkin sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa cinta sejati itu ada dan untuk seorang saja. Demi jodohku yang akan menjadi objek cinta sejatiku, ku hindari pacaran maupun rayuan yang tak semestinya. Karena ekspresi rasa cinta ini hanya untuknya saja.

Hanya bidadariku saja, belahan hatiku, separuh jiwaku yang berhak untuk menyentuh tubuh fisikku. Hanya dia seorang yang boleh menyandarkan kepalanya di bahuku sepuas hatinya. Hanya untuk dialah cinta dan kehormatanku ku serahkan. Dan sembari menunggu waktu dan ruang yang tepat itu, aku akan terus berjuang untuk memahami dan berperilaku dengan inspirasi dari cinta sejati.

Pecinta sejati tak kan rela membiarkan kekasihnya mati kelaparan
Pecinta sejati tak kan sudi melihat kekasihnya hina jadi cercaan
Pecinta sejati mustahil menduakan kekasihnya dengan berpacaran
Selain dengan kekasihnya sendiri yang selalu dirindukan

Sepanjang hari, sepanjang waktu
Ku menanti dalam rindu
Belahan hati yang satu
Tempat rasa bersatu padu

Untuk engkaulah kesetiaan ini
Demi engkaulah perjuangan ini
Bagi engkaulah cintaku ini
Kepada engkaulah citaku ini

Semoga angin yang bertiup
Membawakan pesan cinta dari dalam hati
Biar cinta mulai meletup
Mempersatukan kita di tempat indah nanti

Semoga Allah memberkahimu cintaku!
Semoga Allah menguatkanmu untuk selalu menjaga kehormatanmu!
Semoga Allah menjauhkanmu dari segala keburukan!
Dan menghiasi hidupmu dengan segala kebaikan!

Aammiin Yaa Allah Yaa Rabb al-'Aalamiin…

Untukmu, seorang yang belum ku tahu rupa dan namanya
Namun, aku tahu, ku mencintaimu dengan sepenuhnya
Bidadariku!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar